Jumat, 30 April 2010

Lepasnya Timor Timur

Posisi Timor Timur yang terselip di sela kebulatan wilayah Indonesia
memang menjadikannya seperti kerikil dalam sepatu. Membuatnya serba
canggung.
Dalam masa perang dingin, Amerika Serikat getol menggembosi kekuatan
komunisme di seluruh penjuru dunia. Mereka khawatir Timor Portugis (nama
Timor Timur pada masa lampau) menjadi salah satu basis komunisme di Asia
Tenggara sebagai perpanjangan poros Pyongyang - Ho Chi Minh City yang
gagal dieliminasi melalui perang Korea dan perang Viet Nam.
Maka, sangat wajar jika Indonesia [dibuat] sedikit paranoid sehingga mau
dijadikan bumper oleh Amerika Serikat. {Lucunya, Indonesia lupa bahwa
Amerika Serikat masih belum mampu menyingkirkan kerikil dalam sepatunya
sendiri, yakni Kuba.} Apalagi Indonesia senantiasa dibayang-bayangi kisah
G-30-S yang menempatkan komunisme sebagai bahaya laten. Klop sudah.
Dengan dukungan terselubung Amerika Serikat, Indonesia akhirnya berhasil
menjadikan Timor Timur sebagai propinsi ke-27. {Agak mirip dengan usaha
Saddam Hussein yang berusaha menganeksasi Kuwait sebagai propinsi barunya.
Bedanya, Saddam lebih berterus-terang dan tidak didukung Amerika Serikat.}
Australia bahkan termasuk negara yang mendukung lobby Indonesia di PBB.
Setidak-tidaknya, mereka tidak menentang Indonesia karena Australia pun
berkepentingan atas keberadaan Timor Timur yang berada di pintu Utaranya.
Kisah Timor Timur ternyata tidak berjalan semulus dugaan dan rencana.
Setidak-tidaknya ada 3 macam keinginan yang mulanya menjadi sebab perang
saudara di Timor Timur setelah Portugal angkat kaki dari bumi Loro Sae,
yakni:
1) setuju bergabung dengan Indonesia (yang bukannya tanpa reserve,
melainkan ada kesepakatan-kesepakatan khusus).
2) tetap menjadi bagian Portugal sebagai koloni seperti halnya Macao.
3) merdeka sebagai negara baru yang berdiri sendiri.
Masing-masing keinginan tersebut terkristalisasi dalam kekuatan
partai-partai politik seperti Apodeti, UDT, KOTA, Trabalhista, dan
Fretilin berikut fraksi-fraksi bersenjatanya.
Setelah Timor Timur bergabung dengan Indonesia, kekuatan yang tidak
menginginkan bergabung dengan Indonesia terus melakukan aksi yang
memperlihatkan bahwa mereka masih eksis. Dalam pandangan mereka, yang
terjadi bukanlah integrasi melainkan INTERVENSI (seperti Uni Sovyet
terhadap Afghanistan pada masa itu). Upaya mereka didukung oleh lobby
politik di tingkat dunia. {Mirip gerilya tentara Indonesia pada jaman Pak Dirman yang dibarengi lobby para politisi Bung Karno, Bung Hatta, Moh.
Roem, dll.}
Berbeda dengan penanganan kasus front separatis Moro (MNLF) di Philipina
dimana Indonesia sukses dalam perannya sebagai penengah dan pendamai
sehingga Moro mendapat otonomi khusus, Indonesia justru menerapkan tangan
besi terhadap gerakan separatis di Timor Timur. {Saya tidak tahu apakah
standar ganda ini ada hubungannya dengan MNLF yang kebetulan berwarna
Islam di lingkungan yang mayoritas Katholik sedangkan Timor Timur
kebetulan berwarna Katholik di lingkungan yang mayoritas Islam.}
Prinsip Kaisar Nero yang berusaha meredakan keresahan rakyat Romawi dengan
"memberi roti dan hiburan gladiator" hendak diterapkan di Timor Timur.
Pembangunan fisik digalakkan dimana-mana (sehingga patutlah dicemburui
oleh Aceh dan Irian Jaya yang sudah lebih dahulu bergabung dengan
Indonesia), termasuk berusaha merebut hati umat Katholik dengan membangun
patung Yesus terbesar ke-2 di dunia setelah Brasil. Dilain pihak,
kekerasan terus berlangsung secara terselubung (tidak terliput media
massa).
Jika pada awalnya lebih banyak rakyat Timor Timur yang setuju berintegrasi
dengan Indonesia dengan harapan berakhirnya kekerasan berdarah perang
saudara, pada perkembangan selanjutnya justru kekuatan anti-integrasi kian
bertambah. Hal ini dapat dilihat dari usia generasi muda Falintil yang
lebih muda usianya dibanding masa integrasi itu sendiri.
Mengapa bisa begitu? Kecewa dan dendam. Itulah jawabannya.
Mengapa demikian?
Mirip kasus Aceh, banyak dari antara mereka yang pada mulanya bukan
pendukung anti-Indonesia. Bisa jadi, mereka bahkan pendukung integrasi.
Mereka berbalik akibat kebiadaban militer yang paranoid terhadap ulah
gerilyawan Fretilin sehingga tidak pandang bulu membabat warga sipil Timor
Timur yang tidak bersalah. Banyak anak yang mendendam pada pihak militer
karena anggota keluarga mereka dianiaya, diperkosa, diculik, dibunuh DI
DEPAN MATA MEREKA SENDIRI. Akibatnya, banyak anak muda yang bergabung
dengan pihak anti-integrasi bukan karena kesamaan ideologi, melainkan
dendam pada militer. Alih-alih mengurangi jumlah pembangkang, justru
semakin bertambah deretan orang yang antipati. {Mengapa tidak belajar dari
kasus Viet Cong di Viet Nam?}
Upaya memberi keleluasaan unjuk rasa dalam koridor demokrasi yang dicoba
diterapkan oleh Sintong Panjaitan (Pangdam Wirabhuana saat itu) sebenarnya
sudah membuka peluang angin segar. Menurutnya, lebih baik membiarkan
riak-riak kecil yang terpantau daripada memendam magma yang bisa meletus
tanpa kendali. Namun upaya harmonisasi ini ditekuk habis oleh aksi di luar
jalur komando yang meledakkan tragedi Santa Cruz.
Korban manusia jatuh begitu banyak. Tali silaturahmi putus sudah. Dendam
pun kian membara. Semenjak itu, tidak ada lagi upaya mempertautkan hati
yang sudah patah arang. Kekerasan dan kekejaman kian bersimaharajalela.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar